Aplikasi 5G di Indonesia Tinggal Menunggu Waktu

Dirjen SDPPI, Ismail memberika menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “5G Network: Key Technology for The Industrial Revolution 4.0” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (19/3/2019)

Yogyakarta (SDPPI) – Teknologi 5G berpotensi diaplikasikan dalam industri 4.0, akselerasi ekonomi digital, dan public service (smart city). Indonesia, sebagai negara kaya potensi, harus mampu mengembangkan teknologi informasi yang berkembang sangat pesat.

”Dalam pengaplikasian teknologi 5G, Indonesia perlu memilih skenario apa yang ditentukan dan kapan waktunya. Diperlukan timing yang tepat agar teknologi dapat berkembang dengan baik di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Ismail, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “5G Network: Key Technology for The Industrial Revolution 4.0” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (19/3/2019).

Ia menjelaskan Indonesia adalah negara besar yang tumbuh menjadi kekuatan baru. Dari populasi 261,9 juta penduduk, 50,6 persennya sudah menjadi pengguna internet. Jika dibandingkan penduduk di Eropa atau Singapura, jumlah tersebut sangatlah besar. Dengan PDB US$1,02 trilliun dan pertumbuhan rata-rata 5 persen, menjadikan Indonesia negara yang kaya akan potensi. “Potensi ini masih ditambah jumlah populasi angkatan kerja yang mencapai 192,08 juta penduduk dan bonus demografi yang akan diperoleh pada 2030,” papar Ismail.

Mewakili Menteri Komunikasi dan Informatika, Dirjen SDPPI menyampaikan kehadiran teknologi informasi telah mengubah wajah dunia saat ini. Akibat kehadiran teknologi informasi, hampir semua bidang menuju pada transformasi digital. Transformasi ini mendorong hadirnya teknologi disruptif, seperti yang tengah terjadi di bidang transportasi yaitu fenomena ojek online. “Sektor-sektor lain juga nantinya akan ikut terdisrupsi, seperti keuangan atau perbankan,” jelasnya.

Terkait teknologi seluler, sebelumnya berfokus pada user experience dalam bentuk kecepatan koneksi telepon seluler. Hadirnya 5G menjadikan teknologi seluler akan jauh lebih luas. “Ada skenario berupa massive machine type communications dan low latency communications. Skenario ini akan memungkinkan adanya aplikasi dari perangkat dengan latensi rendah seperti bus tanpa awak,” terang Ismail.

Indonesia perlu memanfaatkan keunggulan komparatifnya agar 5G benar-benar bisa berguna bagi masyarakat. Indonesia akan lebih baik untuk menggelar 5G di kawasan industri terlebih dahulu. Indonesia juga sangat perlu untuk mengembangkan 5G pada lapisan aplikasi, karena nantinya pemanfaatan 5G membutuhkan sangat banyak aplikasi yang memiliki kekhususan hanya ada di Indonesia. Penguatan pada lapisan aplikasi akan membuat Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Penguatan aplikasi ini akan bergantung pada generasi muda baik startup/pengembang aplikasi dan mahasiswa-mahasiswa yang bisa membuat solusi inovatif.

Mengakhiri sesinya, Dirjen SDPPI menyampaikan pesan kepada mahasiswa bahwa tantangan belajar saat ini jauh lebih berat, karena tidak hanya belajar dalam satu areal saja (core compentencies). Tidak cukup core competencies yang dikuasai, namun juga soft skills dan holistic concept. Soft skills dalam bentuk keterampilan seperti kerja sama, berkomunikasi, dan leadership yang dapat dilatih dari berbagai peluang, seperti organisasi dan kepanitiaan. Sedangkan wawasan holistik adalah hal yang mutlak bagi mahasiswa sekarang ini, agar bisa bersaing dan kompetitif di masa depan.

Seminar nasional di Yogyakarta ini diikuti lebih kurang 250 mahasiswa. Sejumlah materi disampaikan oleh para pakar, seperti Khoirul Anwar yang merupakan akademisi dari Telkom University dan Lingga Wardhana selaku Ketua Perkumpulan Profesi Telekomunikasi Seluler Indonesia.

Sumber/Foto : Kamal/Dit Standardisasi

Banner `Contact Center`
Banner `Layanan Ditjen SDPPI`
Banner `eKinerja`
Banner `Sistem Informasi Data Statistik`
Banner `Infografis`