Delegasi Indonesia Berhasil Pertahankan Tiga Slot Orbit Satelit

Foto bersama delegasi Indonesia pada pertemuan World Radiocommunications Conference 2019 (WRC-19)

Bandung (SDPPI) – Delegasi Indonesia berhasil mempertahankan atau memperpanjang tiga slot orbit satelit di pertemuan World Radiocommunications Conference 2019 (WRC-19) yang berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir, beberapa waktu lalu.

“ini adalah prestasi bagi kita, karena memperebutkan slot itu menyangkut kedaulatan negara. Banyak negara besar paling-paling hanya mendpatkan satu slot,” ungkap Sekretaris Direktorat jenderal Sumber daya dan perangkat Pos dan Informatika (Sesditjen SDPPI) R Susanto yang ditemui di sela-sela kegiatannya di Bandung, Selasa (26/11/2019).

Susanto mengomentari persetujuan Sidang WRC-19 untuk perpanjangan masa regulatori untuk filing satelit PSN-146E di slot orbit 146 BT dan filing satelit GARUDA-2 di slot orbit 123 BT. Siaran Pers Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jumat (22/11/2019), menyebutkan setelah proses panjang dari level sub working group, working group dan committee, Chairman WRC-19 membacakan keputusan Sidang Pleno tentang hal ini. Keputusan yang sama juga telah dibacakan pada 20 November 2019 untuk persetujuan perpanjangan filing satelit Indonesia lainnya, PALAPA-C1-B di slot orbit 113 BT.

“Semua keputusan diambil berdasarkan persetujuan seluruh negara anggota ITU, berkat kemampuan Delegasi Indonesia meyakinkan mereka betapa pentingnya filing satelit bagi Indonesia,” ujar Susanto.

Delegasi Indonesia terdiri perwakilan Kemkominfo, Kedutaan Besar RI untuk Mesir, Kementerian Perhubungan, LAPAN, operator satelit nasional serta operator selular nasional. Pimpinan Delegasi Indonesia Dirjen SDPPI Ismail, sekaligus sebagai Head of Delegation. Ia didampingi Direktur Penataan Sumber Daya Denny Setiawan, selaku Co-Head of Delegation dan Kasubdit Pengelolaan Orbit Satelit Mulyadi, selaku Deputy Head of Delegation Indonesia.

Selama proses Sidang WRC-19, Delegasi Indonesia mendapat bantuan penuh dari Duta Besar Indonesia untuk Mesir Helmy Fauzy dan jajarannya serta dukungan dari Kementerian Luar Negeri yang berhasil melakukan lobi kepada beberapa negara untuk mendukung Indonesia.

Sidang WRC merupakan sidang yang dilaksanakan secara berkala oleh ITU setiap tiga atau empat tahun untuk menyusun aturan dan rencana internasional mengenai penggunaan spektrum frekuensi radio di masa depan, serta menyusun peraturan internasional mengenai penggunaan orbit satelit. Hasil WRC akan diadopsi dalam Peraturan Radio ITU yang menjadi acuan perencanaan penggunaan frekuensi radio nasional di Indonesia.

Sidang WRC-19 kali ini dilaksanakan pada 28 Oktober – 22 November 2019 di Sharm El-Sheikh, Mesir. Agenda yang dibahas dalam sidang WRC-19 mencakup perencanaan frekuensi radio untuk keperluan seluler/IMT, satelit, penerbangan, maritim, kereta api, penginderaan jauh, HAPS, RLAN, serta regulasi penggunaan slot orbit untuk satelit di Geostationary Orbit (GSO) maupun Non-GSO.

Dalam sidang ini, Indonesia mengajukan beberapa proposal mengenai rencana penggunaan frekuensi radio dan aturan penggunaan slot orbit. Satu proposal strategis mengenai permintaan agar Indonesia diberi perpanjangan masa regulasi ketiga filing satelit Indonesia, yaitu PALAPA-C1-B (113BT) pada frekuensi Ku band, GARUDA-2 (123 BT) pada frekuensi L band, dan PSN-146E (146BT) pada frekuensi Ka band.

Ketiga filing satelit sangat penting, karena akan digunakan untuk menempatkan dan mengoperasikan satelit Indonesia untuk mendukung program penyediaan layanan komunikasi broadband bagi masyarakat. Filing satelit PALAPA-C1-B di slot orbit 113BT akan digunakan untuk menempatkan satelit Nusantara Dua yang akan diluncurkan tahun 2020.

Sedangkan filing satelit PSN-146E di slot orbit 146BT akan digunakan untuk menempatkan satelit SATRIA milik BAKTI Kemkominfo yang akan diluncurkan pada tahun 2023 untuk memberikan layanan broadband untuk masyarakat Indonesia di daerah-daerah terluar, tertinggal dan terdalam. Berikutnya filing satelit GARUDA-2 di slot orbit 123BT akan digunakan untuk menempatkan satelit yang akan memberikan layanan telepon satelit yang akan diluncurkan pada tahun 2024.

Dengan demikian, keberhasilan Indonesia untuk mendapatkan perpanjangan waktu regulatori filing satelit Indonesia tersebut sangat strategis bagi kepentingan pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk akses telekomunikasi terutama di daerah-daerah terluar, terdalam dan tertinggal (3T).

“Apabila Delegasi Indonesia gagal mendapatkannya, maka Indonesia tidak dapat menempatkan satelit barunya. Mengusahakan filing baru di slot orbit sangat sulit mengingat kepadatan slot orbit GSO saat ini,” jelas Susanto.

Sumber/ foto : Direktorat Penataan

Banner `Contact Center`
Banner `Layanan Ditjen SDPPI`
Banner `IFaS Fest 2019`
Banner `eKinerja`
Banner `Sistem Informasi Data Statistik`
Banner `SDPPI Maps`
Banner `Infografis`