Soft Skill CPNS Harus Kuat Hadapi Perubahan Industri Digital

Dirjen SDPPI Ismail memberi arahan pada para CPNS yang sedang mengikuti kegiatan On The Job Training.

Cimahi (SDPPI) – Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Ditjen SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika harus memiliki soft skill yang baik untuk menghadapi perubahan industri digital telekomunikasi dan informatika ke depan.

“Tapi sukses dalam bekerja itu tidak cukup hanya dengan hard skill, jauh lebih penting bahwa soft skill merupakan suatu hal yang diperlukan dalam melakukan sebuah perubahan,” kata Dirjen SDPPI Ismail menyapa para CPNS yang mengikuti On the Job Training (OJT) di Pusdikhub TNI AD, Jalan Gatot Subroto Nomor 5, Cimahi Tengah, Sabtu (17/8).

Kunjungan ke Pusdikhub TNI AD dilakukan usai Upacara Bendera Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-74 Republik Indonesia di Kantor Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Bandung, Jawa Barat.

OJT bagi CPNS dilaksanakan sejak 12 Agustus sampai 1 September 2019. Selain di Pusdikhub TNI AD, beberapa sesi kegiatan juga dilakukan di Corporate University Telkom, Bandung. Peserta OJT terdiri dari 48 CPNS di lingkungan Ditjen SDPPI dan dua orang dari Inspektorat Jenderal Kemkominfo.

Menurut Dirjen, yang dimaksud dengan soft skill adalah sikap mental sebagai prasyarat dalam menghadapi sebuah perubahan. Soft skill adalah hal-hal dasar yang harus disiapkan. “Kenapa? Karena tidak mungkin kita akan bisa memenangkan persaingan tanpa meletakkan fondasi prasyarat sikap mental ini,” tegasnya.

Salah satu aspek sikap mental ini adalah masalah kedisiplinan. Kemudian kerjasama, komunikasi dan seterusnya. Semua soft skill ini belum sepenuhnya didapatkan di bangku pendidikan formal yang kebanyakan belajar hard skill, yaitu ilmu-ilmu dasar yang memang harus dipelajari.

“Soft skill harus kita bentuk. Tidak bisa soft skill didapatkan secara singkat. Jadi ini membutuhkan jam terbang, membutuhkan hal yang secara rutin dan terus-menerus dilakukan. Kita tidak seperti belajar suatu ilmu mungkin kita langsung dapat pengetahuan memahami. Tetapi, kalau soft skill ini harus sesuatu yang sifatnya menjadi rutinitas, dan itu tidak bisa dilatih sendirian,” paparnya.

Ismail juga berbagi masa lalunya ketika pernah berkesempatan ikut pelatihan di tempat yang sama pada tahun 1994 selama kurang lebih tiga pekan. “Ini nostalgia buat saya melihat ruangan ini. Dan hasilnya ada,” ujarnya.

Ia mengungkapkan para CPNS menjadi bagian dari masa depan Kemkominfo dan juga industri teknologi komunikasi. Sekarang telah masuk ke era 5G, dimana dengan cepat teknologi dipicu artificial intelligence, block change, cloud computing, atau big data analytic, yang saling tumbuh bersamaan, sehingga mengubah perilaku masyarakat. Salah satu pemicunya adalah banyaknya smartphone yang beredar di masyarakat. Perubahan teknologi digital ini membuat model bisnis yang mengacu pada perubahan lifestyle masyarakat.

Dimana peran Kemkominfo? Dirjen menekankan mau tidak mau, suka tidak suka Indonesia harus siap bersaing menghadapi kondisi ini. Kemkominfo berada dalam posisi sebagai regulator, sebagai yang membuat kebijakan dan mempersiapkan aturan main yang makin sulit ke depan. “Mudah-mudahan rekan-rekan semua mampu menjadi generasi penerus yang siap untuk bertarung dengan industri ke depan. Indonesia ini hebat kalau SDM maju. SDM unggul membuat Indonesia maju,” tandas Ismail.

Turut hadir dalam kegiatan OJT antara lain Kepala Balai Monitor Kelas I Bandung Zainuddin Kalla, Kasi Pemantauan dan Penertiban Balai Monitor Kelas I Bandung Luthfi, dan beberapa staf terkait dari Ditjen SDPPI Kemkominfo Jakarta.

(Sumber/foto: Iwan, Setditjen)

Banner `Contact Center`
Banner `Layanan Ditjen SDPPI`
Banner `eKinerja`
Banner `SDPPI Maps`
Banner `IFaS Fest 2020`