Transformasi Digital Adalah Peluang Sekaligus Ancaman

Dirjen SDPPI Ismail menjadi Keynote Speaker dalam 3rd Digital Transformation Strategy Meeting APAC 2019 di Jakarta, Selasa (09/04/2019)

Jakarta (SDPPI) – Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Ismail mengajak pelaku usaha di berbagai sektor untuk memandang transformasi digital yang tengah terjadi sebagai peluang dan ancaman agar kita tetap terus bisa tumbuh.

“Kita tidak bisa hanya melihat transformasi digital sebagai peluang, namun juga harus dilihat sebagai ancaman. Dari ancaman yang ada harus bisa dimitigasi terkait potensi risiko yang akan muncul, seperti security,” kata Ismail saat menyampaikan keynote speech dalam 3rd Digital Transformation Strategy Meeting APAC 2019 di Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Ismail menegaskan antisipasi terhadap transformasi digital mutlak diperlukan agar perusahaan bisa bertahan dan tidak collapse di era disruptif.

Di hadapan C-level dari berbagai sektor industri, Ismail menjelaskan bahwa dengan transformasi digital, kita akan mendapat banyak benefit, yaitu pertumbuhan ekonomi, munculnya lapangan pekerjaan baru dan juga peningkatan kualitas hidup manusia. “Ini dapat dicapai dengan cara peningkatan produktivitas, efisiensi cost dan juga dengan adanya revenue stream baru yang berasal dari transformasi digital,” jelasnya.

Ia mencontohkan di sektor transportasi ada Gojek yang pada 2018 memberikan kontribusi Rp44 triliun terhadap perekonomian. Diantaranya, Rp18 triliun berasal dari layanan Gofood dan Rp16,5 triliun dari Goride. Dampak ekonomi dari transformasi digital tersebut merupakan hal yang nyata.

Dari hasil riset yang baru-baru ini diterbitkan oleh Universitas Indonesia, transformasi digital yang hadir tidak terlepas dari inovasi disruptif. “Meskipun dalam Bahasa Indonesia kata disruptif berarti merusak, bukan berarti inovasi disruptif ini berkonotasi negatif. Inovasi disruptif ini membawa dampak ekonomi yang langsung bisa dirasakan masyarakat,” urainya.

Lebih lanjut, Ismail memaparkan latar belakang mengapa inovasi disruptif terjadi saat ini hampir di semua sektor. Penetrasi internet yang cukup besar dan infrastruktur telekomunikasi yang mulai mencukupi, menjadi salah satu faktornya. Ditambah dengan tumbuhnya kelas menengah saat ini atau bisa juga dikatakan layanan yang semakin terjangkau harganya.

Faktor lain menyebabkan inovasi disruptif semakin marak adalah supply demand gap di berbagai sektor. Contoh Gojek muncul karena adanya supply demand gap. Begitu juga dengan unicorn lain seperti Traveloka. Demand di sektor pariwisata sangat tinggi dengan tumbuhnya kelas menengah.

Dirjen SDPPI juga menerangkan berbagai upaya pemerintah untuk menghadapi transformasi digital di era disruptif ini. “Kami berkeyakinan bahwa light touch regulation adalah pendekatan yang lebih baik saat ini. Regulasi hanya ditetapkan jika memang benar-benar dibutuhkan seperti alokasi frekeunsi.” tegas Ismail.

Upaya lain yang dilakukan adalah melengkapi infrastruktur telekomunikasi yang ada, menyiapkan digital talent dan mendorong ekosistem teknologi seperti ekosistem IoT. “Kami juga berkeyakinan bahwa investasi akan banyak hadir jika ekosistemnya sudah tumbuh. Maka dari itu, pemerintah saat ini berusaha menjadi fasilitator agar ekosistem bisa tumbuh terlebih dahulu,” pungkas Ismail.

Acara yang diselenggarakan Proventa International ini dihadiri oleh C-level dari berbagai perusahaan di Indonesia mulai dari yang bekerja di bidang jasa keuangan hingga farmasi. Dalam acara ini, dibahas berbagai macam implementasi dari teknologi yang mendorong transformasi digital dalam round table discussions seperti Big Data Analytics, IoT, Artificial Intelligence, Machine Learning, Cloud Technologies dan Cyber Security.

(Kamal D. Jatmoko, Dit. Standardisasi PPI)

Banner `Contact Center`
Banner `Layanan Ditjen SDPPI`
Banner `eKinerja`
Banner `Sistem Informasi Data Statistik`
Banner `Infografis`